Iklan

IMG-20250908-180154

49 Tahun Dr. Elviriadi: Konsisten di Garis Rakyat

PaHamlah.com
Kamis, 26 Maret 2026, Maret 26, 2026 WIB Last Updated 2026-03-27T03:50:34Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

Oleh: Azizon Nurza
PaHamlah.com-Di usia yang ke-49, Dr. Elviriadi tidak sedang sekadar merayakan pertambahan angka dalam perjalanan hidupnya. Ia sedang menegaskan sesuatu yang jauh lebih penting dan jauh lebih mahal di zaman ini: konsistensi dalam keberpihakan.

Di tengah dunia yang makin pragmatis, ketika banyak orang pelan-pelan menjauh dari idealisme, melunak oleh kenyamanan, atau memilih diam demi aman, Elviriadi justru tetap memperlihatkan satu watak yang sejak dulu saya kenal: ia tidak betah berdiri jauh dari persoalan rakyat.

Dan bagi saya, itulah yang membuatnya istimewa.

Saya mengenal Elviriadi bukan hanya sebagai sesama aktivis kampus, bukan pula sekadar sebagai sesama yang pernah ditempa dalam ruang-ruang intelektual. Saya mengenalnya sebagai adik, kader, sekaligus saudara seperjalanan dalam tradisi perjuangan—di kampus, di ruang dialektika, dan dalam semangat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang membentuk cara pandang kami tentang umat, bangsa, dan tanggung jawab intelektual.

Karena itu, ketika hari ini banyak orang mengenal Elviriadi sebagai dosen, pemikir, penulis, atau aktivis lingkungan, saya justru melihat satu benang merah yang tidak pernah putus dari dirinya: ia tetap memelihara keberanian untuk berpihak.

Dan keberpihakan itu, dalam hidup ini, tidak pernah murah.

*Ilmu yang Tidak Berjarak dari Rakyat*
Banyak orang berilmu. Banyak pula yang bergelar. Tetapi tidak semua orang yang berilmu sanggup menempatkan pengetahuannya untuk membela kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Di sinilah saya melihat karakter Elviriadi tumbuh dengan jelas.

Ia bukan tipe akademisi yang nyaman bersembunyi di balik teori, lalu menjaga jarak dari realitas sosial. Ia justru memilih menjadikan ilmu sebagai alat membaca ketimpangan, alat menyuarakan kegelisahan, dan alat memperjuangkan kepentingan publik.

Itulah sebabnya, ketika ia bicara tentang lingkungan, ekologi, lahan, kebakaran hutan, atau nasib ruang hidup masyarakat, yang berbicara bukan hanya seorang dosen. Yang berbicara adalah seorang intelektual yang hatinya masih tersambung dengan suara rakyat.

Saya selalu percaya, ilmu yang paling mulia bukanlah ilmu yang hanya hebat dipresentasikan di ruang seminar, tetapi ilmu yang hadir saat masyarakat membutuhkan suara yang jujur. Dan Elviriadi, dalam banyak momentum, memperlihatkan itu. Ia tidak membiarkan pengetahuan menjadi benda mati. Ia menghidupkannya di tengah persoalan.

*Tetap Menjadi Aktivis, Meski Tak Lagi Memakai Jaket Mahasiswa*
Ada satu fase yang sering menjadi ujian bagi banyak orang: ketika semangat perjuangan masa muda berhadapan dengan kenyataan hidup, jabatan, posisi sosial, dan berbagai kompromi yang pelan-pelan menggoda idealisme.

Tidak sedikit orang yang dulu berapi-api di masa mahasiswa, tetapi kemudian padam ketika masuk ke dunia yang lebih mapan. Tidak sedikit yang dulu lantang bicara tentang keadilan, lalu berubah menjadi sangat hati-hati ketika kepentingan mulai mengelilinginya.
Tetapi Elviriadi, menurut pembacaan saya, memilih jalan yang berbeda.

Ia tetap membawa ruh aktivisme itu ke dalam hidupnya.

Mungkin hari ini ia tidak lagi berada di lorong-lorong kampus sebagai mahasiswa. Mungkin ia tidak lagi berdiri di forum-forum kaderisasi dengan semangat muda yang meledak-ledak. Tetapi satu hal yang saya lihat tidak berubah: jiwa geraknya tetap hidup.
Dan itu penting.

Sebab aktivis sejati bukan ditentukan oleh status organisasi semata, melainkan oleh kesediaannya untuk terus peduli, terus gelisah, dan terus merasa terpanggil untuk bicara ketika banyak orang memilih diam.
Itulah yang saya lihat pada diri Elviriadi: ia tetap membawa watak kader ke dalam ruang akademik dan ruang publik.

Bagi kami yang pernah ditempa di HMI, itu bukan hal kecil. Karena sesungguhnya kader terbaik bukanlah mereka yang paling fasih mengutip nilai-nilai perjuangan, tetapi mereka yang tetap menjaganya setelah usia bertambah, setelah gelar datang, dan setelah hidup memberi banyak pilihan untuk berkompromi.

*Keberanian Itu Tidak Selalu Nyaman*
Menjadi orang yang konsisten di garis rakyat tentu bukan jalan yang selalu mulus. Ia bukan jalan yang penuh tepuk tangan. Ia bahkan sering kali menjadi jalan yang sunyi.
Sebab ketika seseorang memilih berpihak pada kepentingan publik, memilih membela suara-suara yang lemah, atau memilih mengingatkan ketika banyak pihak sedang nyaman dengan keadaan, maka yang ia hadapi bukan hanya perdebatan gagasan, tetapi juga risiko sosial, tekanan, bahkan salah paham.

Tetapi justru di situlah integritas diuji.

Saya melihat Elviriadi sebagai sosok yang memahami bahwa intelektual tidak boleh hanya pandai membaca zaman, tetapi juga harus berani mengambil posisi di hadapan zaman.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak terlalu mengingat siapa yang paling aman. Sejarah lebih sering mengingat siapa yang tetap bersuara ketika suasana mendorong semua orang untuk diam.

Dan dalam hal itu, Elviriadi menunjukkan bahwa keberanian bukanlah soal kerasnya suara, melainkan keteguhan menjaga arah.

*Dari Kampus ke Ruang Publik*
Saya meyakini bahwa kampus yang sehat bukan hanya melahirkan sarjana, tetapi melahirkan penjaga akal sehat publik. Kampus harus menghadirkan orang-orang yang bukan sekadar pintar, tetapi juga punya tanggung jawab moral terhadap masyarakat.

Pada titik itu, saya melihat Elviriadi tidak berhenti pada peran formalnya sebagai dosen. Ia tumbuh menjadi figur publik yang membawa fungsi yang lebih luas: menjembatani ilmu dengan realitas sosial, menghubungkan pemikiran dengan kepentingan masyarakat, dan mengingatkan publik agar tidak kehilangan sensitivitas terhadap persoalan bersama.

Ini penting. Sebab di tengah kebisingan opini hari ini, kita membutuhkan lebih banyak suara yang lahir bukan dari kepentingan sesaat, tetapi dari kegelisahan yang jujur. Dan Elviriadi, menurut saya, termasuk dalam kategori itu.

Ia hadir bukan sekadar untuk dikenal, tetapi untuk memberi makna.

*49 Tahun: Bukan Hanya Umur, Tetapi Jejak*
Usia 49 tahun adalah usia yang matang. Usia ketika seseorang tidak lagi dinilai hanya dari semangatnya, tetapi dari jejak yang ditinggalkan, dari nilai yang dipertahankan, dan dari pengaruh yang diberikan kepada lingkungan sekitarnya. 

Dalam konteks itu, saya melihat perjalanan Elviriadi bukan hanya sebagai perjalanan personal, tetapi juga perjalanan nilai.

Nilai tentang bagaimana seorang akademisi tetap harus punya keberanian moral. Nilai tentang bagaimana seorang kader tetap harus menjaga idealisme. Nilai tentang bagaimana seorang intelektual tidak boleh kehilangan rasa terhadap nasib rakyat.

Saya percaya, manusia boleh bertambah usia, tetapi jangan sampai kehilangan arah batin perjuangannya. Dan syukurlah, sampai di titik ini, Elviriadi tetap memperlihatkan bahwa ia masih berjalan di jalur yang sama: jalur keberpihakan, jalur kejujuran intelektual, dan jalur pengabdian.

*Catatan Seorang Senior*
Sebagai seorang yang pernah lebih dulu melewati ruang-ruang proses yang sama, saya memandang ulang tahun ke-49 Elviriadi bukan sekadar momentum untuk memberi ucapan selamat. Ini juga saat yang tepat untuk memberi penghormatan pada konsistensi, sesuatu yang hari ini jauh lebih langka daripada kecerdasan.

Karena jujur saja, bangsa ini tidak terlalu kekurangan orang cerdas. Yang sering kurang adalah orang cerdas yang tetap punya keberanian moral.

Tidak sedikit yang pandai, tetapi memilih aman.
Tidak sedikit yang mengerti, tetapi memilih diam.
Tidak sedikit yang tahu persoalan rakyat, tetapi terlalu sibuk menjaga posisi.
Maka ketika ada orang yang tetap menjaga jarak dari kemunafikan publik, tetap menjaga kepekaan terhadap masalah sosial, dan tetap merawat semangat perjuangan di tengah usia yang terus matang, maka orang seperti itu patut diapresiasi. Dan bagi saya, Elviriadi adalah salah satunya.

*Selamat Milad, Dr. Elviriadi*
Di usia ke-49 ini, saya ingin menyampaikan satu hal sederhana tetapi penting: tetaplah menjadi dirimu yang gelisah terhadap ketidakadilan.

Tetaplah menjadi intelektual yang tidak kehilangan nurani.
Tetaplah menjadi akademisi yang tidak menjauh dari rakyat.
Tetaplah menjadi kader yang tidak selesai hanya karena usia tak lagi muda.

Tetaplah menjadi suara yang jernih di tengah riuh kepentingan.
Karena negeri ini, daerah ini, masyarakat ini, masih membutuhkan orang-orang yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga setia menjaga keberpihakan.

Selamat 49 tahun, Dr. Elviriadi.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan, umur yang berkah, keluasan ilmu, kekuatan jiwa, dan keteguhan langkah dalam pengabdian.

Teruslah menyalakan akal sehat.
Teruslah merawat keberanian.
Dan yang paling penting, teruslah konsisten di garis rakyat.

Editor: Hanif
Komentar

Tampilkan

Terkini

Tag Terpopuler