Iklan

IMG-20250908-180154

Maraknya PETI Ancam Sumber Air dan Sungai Batang Kampar di Nagari Galugua

PaHamlah.com
Selasa, 09 Desember 2025, Desember 09, 2025 WIB Last Updated 2025-12-10T04:03:18Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
Lima Puluh Kota,(PAHAMLAH.COM)– Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kembali marak di Nagari Galugua, wilayah barat Kabupaten Lima Puluh Kota yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau. Kawasan yang berada di hulu Sungai Batang Kampar itu kini menghadapi ancaman serius akibat operasi tambang ilegal yang menggunakan alat berat excavator.

Sungai Batang Kampar merupakan salah satu sungai terpanjang di Sumatera yang mengaliri dua provinsi sekaligus—Sumatera Barat dan Riau. Bagi masyarakat Nagari Galugua, sungai tersebut bukan hanya sumber air bersih, tetapi juga sumber protein hewani dari hasil tangkapan ikan yang selama ini menjadi kebutuhan utama warga. Air yang mengalir dari hulu itu juga berkontribusi besar terhadap pasokan air PLTA Koto Panjang, penopang listrik bagi Riau dan sebagian Sumatera Barat.

Namun kini kondisi sungai dilaporkan semakin memprihatinkan. Air yang dulunya jernih mulai berubah keruh akibat pengerukan dan pencemaran dari aktivitas PETI yang dilakukan secara masif di kawasan hutan lindung.

Menurut keterangan salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, sedikitnya empat unit excavator telah beroperasi selama hampir dua minggu. “Di Jorong Galugua ada tiga unit excavator, sementara di Jorong Tanjung Jajaran satu unit. Bahkan kabarnya akan masuk satu unit tambahan,” ujarnya.

Warga tersebut juga menegaskan bahwa keberadaan PETI tidak memberikan kontribusi apa pun kepada masyarakat setempat, malah membawa persoalan baru. “Air jadi tidak bisa dikonsumsi, ikan semakin hilang, dan ancaman banjir tiap tahun pasti makin besar karena bantaran sungai dibabat habis,” tambahnya.


Ia juga menyayangkan adanya dugaan keterlibatan oknum tertentu yang “kebal hukum” sehingga aktivitas ilegal tersebut seolah-olah dibiarkan. “Kawasan ini hutan lindung, jelas-jelas tidak boleh ditambang. Tapi kenyataannya malah dibiarkan dan disembunyikan.”

Dalam situasi ketika Sumatera Barat sedang menghadapi bencana alam di berbagai daerah, warga Galugua mengaku kecewa karena masih ada pihak yang memilih memperkaya diri dengan merusak lingkungan.

“Kami mohon kepada aparat penegak hukum, khususnya di wilayah hukum Kabupaten Lima Puluh Kota, agar mengusut tuntas kasus ini. Jangan sampai ada mafia tambang yang beroperasi di daerah kami,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah terkait maraknya aktivitas PETI di Nagari Galugua.


Tim
Komentar

Tampilkan

Terkini

Tag Terpopuler