masukkan script iklan disini
PEKANBARU,(PAHAMLAH.COM)-Seminar Setengah Hari Badan Koordinasi [Badko HMI Riau Kepri dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Riau berlangsung meriah.
Bertempat di Bert Cafe Jl Kubang Raya Pekanbaru, acara di hadiri narasumber berkompeten dari Dinas LHK Propinsi Riau, Disnaker Riau dan Pakar sekaligus aktivis Lingkungan Hidup Dr Elviriadi.
Dalam materi yang disampaikannya, konsep pembangunan berkelanjutan di indonesia telah gagal total.
"Dari konsep keseimbangan 3P (People, Planet dan Profit), ternyata yang terjadi adalah profit menguasai seluruh aspek pengelolaan lingkungan.
Tidak ada ruang bagi people yakni hak hidup sehat, sosial budaya juga hancur. Apalagi planet, lingkungan hidup sudah porak poranda. Walaupun Aceh, Sumut dan Sumbar bencana, namun izin izin tambang dan hutan terus ditambah, " ucapnya dengan suara bergetar.
Kepala Departemen Restorasi Gambut Mangrove Majelis Nasional KAHMI itu mengakui kelompok sipil melemah.
"Menang pasca reformasi kekuatan sipil melemah. OKP seperti HMI, KAMMI, PII, PMII termasuk Ormas Islam juga sudah mengurus internal saja. Barganing rakyat tidak di perkuat oleh organisasi mahasiswa. Bahkan sudah pragmatis, tujuan bertindak untuk kepentingan materi jangka pendek pengurus. Digunakanlah organisasi untuk memuluskan kepentingan perut, " imbuhnya dengan nada lemah.
Akademisi yang kerap jadi saksi ahli itu menyampaikan apresiasi pada panitia seminar
"Saya apresiasi HMI dan KAMMI, mau menggelar diskusi dan refleksi kerakyatan. Ditengah hari ini organisasi sedang tiarap, kecuali kalau ada bagi bagi duit cash, " sindirnya.
Pengurus organisasi hari ini, tambah Dr Elv, sangat alergi dengan diskusi lah, seminarlah, bahas bahaslah. Mereka ingin instan. Sudah instan, instan duit bergolek tiap hari masuk saku atau transfer. Kalau dengar ada forum kritis, ada ketidak adilan atau bencana sumatera, adik adik aktivis pengurus tu langsung kabur. Pusing mual mules sambil meracau duit mana duit, beasiswa beasiswa donk, " pungkas peneliti gambut yang ikhlas gundul permanen demi hutan tropis.
Editor: M.Amin


